Ristekdikti Kembali Gelar World Class Professor

DSC00741edit

Setelah berhasil menyelenggarakan program Visiting World Class Professor pada 2016 lalu, Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti pada 2017 kembali menggelar program sama, tetapi dengan konsep acara agak sedikit berbeda. Program yang dibuka April ini tidak hanya akan menghadirkan Profesor kelas dunia ke Perguruan Tinggi Indonesia. Namun juga diharapkan dapat memberi sumbangsih lebih terhadap produktivitas riset di Perguruan Tinggi.

“Jika pada 2016 lalu, sebagai permulaan kami hanya mengundang saudara kita, para ilmuwan diaspora kembali ke kampung halamannya, maka pada tahun ini konsep acaranya sedikit berbeda. Semua Profesor kita yang berdiaspora dan semua Profesor kita yang berada di dalam negeri, yang tentunya memiliki reputasi internasional, kami harapkan dapat turut serta memberi sumbangsih terhadap jalannya program ini,” ucap Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti.

Program World Class Professor 2017 secara umum bertujuan meningkatkan kinerja Dosen, khususnya produktivitas riset akademis di Perguruan Tinggi, peningkatan publikasi di jurnal bereputasi, peningkatan peringkat Perguruan Tinggi Indonesia menuju QS World University Ranking 500 dunia dan tentunya meningkatkan proses interaksi akademik global antara sesama Dosen baik di dalam maupun di luar negeri.

“Tujuan ini saya rasa amat relevan dengan keinginan pemerintah meningkatkan daya saing bangsa”, ujarnya.

Menurutnya, apabila sebuah bangsa ingin bertransformasi menjadi lebih hebat, kuncinya ada pada pembenahan sumber daya manusia. Ghufron juga mengatakan bahwa program World Class Professor 2017 ini merupakan langkah melakukan percepatan budaya akademis di Perguruan Tinggi, yang hilirnya adalah pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi dan peningkatan daya saing bangsa.

“Saya yakin, dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis pengembangan ilmu pengetahuan, bangsa ini bisa mandiri dan sejahtera, sehingga konsep Trisakti dapat diterapkan yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan”, Ghufron menambahkan.

Disinggung mengenai keberadaan Profesor kelas dunia yang berasal dari dalam negeri, mantan Dekan Fakultas Kedokteran UGM ini menerangkan, kendati tidak menyeluruh, tetapi tidak sedikit Profesor di Indonesia yang memiliki reputasi dan berkelas dunia.

“Indonesia punya kok Profesor kelas dunia. Banyak kolega saya mengajar dan bahkan diundang ke kampus besar luar negeri untuk melakukan penelitian. Meskipun belum banyak, tetapi memang ada. Bahkan, ada Professor kita yang menjadi chief editor jurnal internasional bereputasi dan posisi akademik lain yang bergengsi. Secara individu kualitas sumber daya manusia kita memang tidak kalah. Namun, secara sistem kita memang perlu dibenahi agar suasana dan atmosfir akademis dapat ditingkatkan untuk mendukung potensi manusianya,” tambahnya.

Ghufron juga menyinggung bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dalam mewujudkan tujuan tersebut sangatlah besar. Bahkan, seharusnya bisa menjadi pusat pengetahuan dunia. Terutama apabila melihat jumlah Dosen dan mahasiswa yang sangat besar dan potensial.

“Kita ini dianugerahi kekayaan alam, keragaman hayati serta kekayaan sumber daya manusia yang besar. Coba bayangkan dengan jumlah Dosen yang sekitar berjumlah 260 ribu dan mahasiswa berjumlah sekitar 6 juta lebih, seharusnya Indonesia produktif melahirkan karya besar di bidang ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi”, ujarnya.

Penyelenggaraan World Class Professor 2017 ini memiliki dua skema, yaitu Skema A dan Skema B. Menurut Ghufron, pengkategorian ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda antar-Perguruan Tinggi. Untuk Skema A ditujukan bagi Perguruan Tinggi berakreditasi A dan telah masuk daftar QS WUR serta mempunyai Pusat Unggulan Indonesia Perguruan Tinggi (PUI PT), sedangkan Skema B diarahkan untuk Perguruan Tinggi lainnya dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

Selain tujuan secara umum, Ghufron menjelaskan, bahwa kedua kategori ini memiliki tujuan khusus tersendiri. Skema A ditujukan untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional pada jurnal bereputasi bertaraf Q1 SJR-Scimago atau indeks yang berkualitas yang lain; meningkatkan jumlah Doktor lulusan dalam negeri dengan publikasi berkelas minimal Q3 SJR-Scimago atau indeks yang berkualitas lain; meningkatkan reputasi akademik dan sitasi per-Dosen; meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam meneliti dan menulis publikasi di jurnal berkelas dunia; serta menggali potensi Dosen dan sumber daya di Indonesia untuk kontribusi pengembangan Iptek Indonesia dan global.

Sedangkan Skema B ditujukan untuk meningkatkan jumlah publikasi internasional pada jurnal bereputasi; meningkatkan jumlah HaKI; memperluas jejaring internasional; meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam meneliti dan menulis publikasi; dan tentunya menggali potensi dosen dan sumber daya di Indonesia untuk kontribusi pengembangan Iptek Indonesia dan global.

“Intinya, semua bermuara pada peningkatan daya saing bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan dunia”, tegas Ghufron.

Program ini sendiri dilangsungkan dalam kurun waktu 3 hingga 6 bulan. Selama bertugas di Indonesia, para Profesor kelas dunia tersebut akan melaksanakan fine tuning (perbaikan kualitas) artikel, join publication untuk di submit ke jurnal internasional bereputasi; melaksanakan join supervision bagi mahasiswa S2 dan S3, serta melakukan join research dengan Dosen muda maupun senior; join study program; membantu analisis data bagi mahasiswa S3; melaksanakan program pemagangan penelitian bagi mahasiswa S3 dan Dosen di laboratorium World Class Professor (WCP); membantu PUI-PT, PT dan LPNK membuat proposal untuk memperoleh dana penelitian atau pengembangan proyek pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah masing-masing atau ke penyandang dana internasional; membantu set-up global satellite laboratory di PUI-PT dan mencantumkan PUI-PT di situs grup WCP sebagai bagian dari global satellite laboratory.

“Jadi program ini menyentuh seluruh lapisan Perguruan Tinggi. Baik kelembagaan, suasana akademisi, dosen, bahkan mahasiswa,” pungkas Ghufron. (21/03/2017)

 

X